Mubarok Institute Gelar Simposium Ramadan Bahas Geopolitik dan Integritas Kepemimpinan
JAKARTA – Mubarok Institute menggelar diskusi interaktif dan simposium Ramadan bertajuk “Menyikapi Dinamika Politik Global dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia” pada Jumat (14/3). Forum ini membahas posisi strategis Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia sekaligus menekankan pentingnya integritas moral dalam kepemimpinan nasional.
Sekretaris Jenderal Mubarok Institute, Herry Purnomo, mengatakan bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh integritas serta etika para pemimpinnya. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar menjadi kekuatan alternatif di kancah global selama mampu menjaga kesehatan moral bangsa serta terbebas dari praktik korupsi sistemik.
“Indonesia memiliki potensi untuk menjadi kekuatan alternatif di panggung dunia. Syarat utamanya adalah bangsa ini harus sehat secara mental dan bersih dari penyakit korupsi,” ujar Herry.
Sementara itu, Chairman Mubarok Institute, Fadhil As. Mubarok, menegaskan bahwa penegakan hukum tanpa pandang bulu merupakan manifestasi nyata dari kedaulatan bangsa. Ia mengingatkan bahwa hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas karena hal tersebut dapat merusak integritas negara.
Dalam simposium tersebut, peserta juga diajak melakukan refleksi filosofis mengenai makna “pulang” dalam momentum Ramadan. Fadhil menjelaskan bahwa kesadaran spiritual penting bagi para pemimpin dan pemangku kebijakan agar tidak terjebak pada kecintaan berlebihan terhadap dunia atau hubbud dunya.
“Jika dunia hanya dipandang sebagai tempat persinggahan, maka kepulangan kepada Tuhan tidak akan terasa menakutkan. Namun bagi mereka yang menumpuk harta melalui cara yang tidak benar, kepulangan justru menjadi hal yang menakutkan,” ujarnya.
Diskusi juga mengangkat perumpamaan perilaku “lebah” dan “lalat” sebagai gambaran etika dalam bernegara. Lebah diibaratkan sebagai simbol kemanfaatan dan pembangunan peradaban, sedangkan lalat melambangkan perilaku yang gemar mencari kesalahan serta menyebarkan “penyakit” sosial seperti korupsi dan praktik mafia.
Sebagai solusi, Mubarok Institute menawarkan konsep strategi “Ya Robbi dan Ya Lobby”. Strategi ini memadukan dimensi spiritual melalui niat tulus dan nilai religius (Ya Robbi) dengan pendekatan profesional berupa diplomasi, jaringan bersih, serta kerja strategis (Ya Lobby).
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan global sekaligus mengimbangi pengaruh oligarki dan praktik politik uang di dalam negeri.
Wakil Rektor UIN SAIZU Purwokerto, Prof. Sulkhan Chakim, yang turut hadir dalam simposium tersebut menegaskan bahwa Mubarok Institute memiliki peran penting dalam memberikan masukan positif kepada pemerintah terkait dinamika politik global.
Ia menilai momentum Ramadan, termasuk kegiatan diskusi dan buka puasa bersama, dapat menjadi ruang refleksi bagi bangsa Indonesia untuk meneguhkan peran strategisnya dalam menjaga stabilitas politik di tingkat internasional.
Simposium ditutup dengan kesimpulan bahwa strategi geopolitik Indonesia harus tetap berpijak pada nilai-nilai spiritualitas dan moralitas. Dengan memadukan profesionalitas serta kesadaran spiritual, Indonesia diharapkan mampu tampil sebagai bangsa yang berdaulat, berintegritas, dan disegani di tingkat global. (*)
Facebook comments